Sejarah Pulo Rheng



Jauh sebelum terbentuknya Gampong Pulo Rheng merupakan salah satu Gampong yang termasuk dalam wilayah administrative Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, Gampong Pulo Rheng termasuk dalam daftar 43 Gampong yang ada di Kecamatan Bandar Baru Kemukiman Nyong  dengan luas wilayah 86,43 Ha. Menurut Jejak History Sejarah Gampong Pulo Rheng merupakan sebuah perkampungan kecil yang dikenal di daerah sekitar dengan sebutan Pulo Rheng. Penyebutan nama Pulo Rheng ini diyakini berasal dari kata Rheng, sebutan lokal untuk tanaman jeruk kecil yang dahulu banyak tumbuh di sekitar pemukiman warga. Sementara kata Pulo menggambarkan posisi kampung yang seakan terpisah atau dikelilingi alur-alur alam seperti sungai dan persawahan 

Gampong Pulo Rheng memiliki dua duson yaitu Dusun Tunong dan Dusun Baroh. Untuk wilayah Duson Tunong paling ujung sebelah utara berbatasan langsung dengan Gampong Daboih, sebelah selatan berbatasan dengan Gampong Palong, sebelah barat berbatasan dengan Gampong Garot dan Palong, sebelah timur berbatasan dengan Gampong Baro dan Dayah Nyong, Sejak awal terbentuknya, Pulo Rheng dikenal sebagai kampung agraris. Sawah membentang, kebun tumbuh subur, dan masyarakat hidup dalam ikatan adat serta gotong royong yang kuat. Namun ada satu ciri khas yang membedakan gampong ini dari yang lain - bentuk jalannya yang berbelok-belok dengan banyak tikungan.
 

Saat kita memasuki jalan Duson Tunong, kita akan melihat sebuah road map yang penuh tikungan, berkelok-kelok seperti arena balapan. Jalan itu tidak lurus panjang, melainkan membentuk lengkungan demi lengkungan yang mengikuti kontur tanah dan batas sawah warga. Bagi masyarakat Pulo Rheng, bentuk jalan yang berbelok-belok ini bukan sekadar infrastruktur. Ia menjadi simbol perjalanan hidup masyarakatnya:
# Hidup tidak selalu lurus, tetapi penuh tikungan.
# Setiap belokan adalah ujian sekaligus arah baru.
# Jalan yang berliku tetap membawa kita pulang ke tujuan.


Makna Filosofis di balik kata “Rheng” di Pulo Rheng memiliki makna yang begitu dalam yaitu menggambarkan sebuah lingkar perjalanan yang tidak selalu tampak sempurna, tetapi tetap menyatu dalam satu kesatuan wilayah. Tikungan-tikungan itu mencerminkan sejarah panjang gampong ini - pernah mengalami masa sulit, perubahan zaman, hingga pembangunan modern - namun tetap berdiri dengan identitas yang sama. Seperti jalan berbelok di Duson Tunong yang menyerupai arena balapan kecil, pembangunan gampong juga tidak selalu lurus. Namun setiap tikungan memiliki arah dan tujuan. Berbelok bukan berarti mundur, melainkan proses menuju kemajuan yang terencana.


Duson Tunong dan Duson Baroh tumbuh mengikuti pola alami tersebut, menciptakan tata ruang kampung yang unik dan berbeda dari desa-desa yang berpola lurus. Kini, meski sebagian jalan telah diperbaiki dan diperkeras, karakter tikungan khas Duson Tunong masih terasa. Ia menjadi ikon tersendiri bagi warga Pulo Rheng - sebuah arena kehidupan yang menggambarkan dinamika, perjuangan, dan semangat masyarakatnya. Karena bagi warga Pulo Rheng, jalan yang berbelok bukan berarti tersesat, melainkan tanda bahwa perjalanan hidup selalu bergerak dan berkembang.
Jika kita tarik jauh ke belakang, Gampong Pulo Rheng telah berdiri bahkan sebelum pecahnya Perang Dunia II. Keberadaan gampong ini telah tercatat dalam struktur pemerintahan desa sejak masa kolonial Hindia Belanda.


Jejak sejarah tersebut dapat dilihat dari kepemimpinan Keuchik Ben, yang dikenal sebagai keuchik (Kepala Desa) pertama Gampong Pulo Rheng. Beliau memimpin sejak tahun 1930 hingga 1960, melewati berbagai masa penting dalam sejarah Indonesia, termasuk masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.


Di bawah kepemimpinan Keuchik Ben, Gampong Pulo Rheng berkembang sebagai perkampungan agraris yang tertata. Pada masa itu:
•  Struktur adat dan pemerintahan gampong mulai dibentuk secara terorganisir.
•  Sistem gotong royong diperkuat dalam pembangunan jalan dan pengelolaan sawah.
•  Tata ruang pemukiman mengikuti pola alami lahan, termasuk jalan Duson Tunong dan Duson Baroh yang berbelok-belok mengikuti batas sawah dan kontur tanah.

Kepemimpinan beliau yang panjang menunjukkan stabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap figur keuchik sebagai pemimpin adat sekaligus pengayom rakyat. Pada periode 1930–1960, masyarakat Pulo Rheng menghadapi berbagai dinamika sejarah nasional. Namun, kehidupan sosial tetap berpusat pada:
• Pertanian sebagai mata pencaharian utama
• Nilai-nilai keislaman dan adat Aceh
• Musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan

Meski dunia dilanda perang besar dan Indonesia memasuki masa kemerdekaan, Pulo Rheng tetap berdiri sebagai komunitas yang menjaga tradisi serta persatuan warganya. Warisan terbesar dari masa awal tersebut adalah:
• Sistem kepemimpinan gampong yang berlandaskan musyawarah
• Pola tata ruang kampung yang khas
• Semangat kebersamaan yang terus diwariskan hingga kini

Nama Keuchik Ben menjadi bagian penting dari sejarah Gampong Pulo Rheng, sebagai simbol awal pemerintahan dan fondasi pembangunan desa.Kini Gampong Pulo Rheng berpacu menggapai harapan baru demi cita-cita pendahulunya. Mewujudkan Pulo Rheng sebagai baldatun Tayyibatun wa rabbun ghafur - gampong yang makmur, aman, religius, dan penuh keberkahan. Gampong Pulo Rheng kini menjadi bagian dari kemukiman Nyong.


Sejarah kepemimpinan Gampong Pulo Rheng sudah sangat lama dan sudah banyak terjadi penggantian kepemimpinan Gampong (Keuchik). Nama – nama Keuchik yang sudah pernah meminpin Gampong Pulo Rheng adalah :
a. Ben Tahun 1930 s/d 1960
b. M. Harun             Tahun 1960 s/d 1980
c. M. Yusuf Yunus Tahun 1980 s/d 2003
d. M. Yusuf Risyad Tahun 2003 s/d 2007
e. Ismail Idris Tahun 2007 s/d 2014
f. Muhammad Nakir Tahun 2014 s/d 2016
g. Amri Tahun 2019 S/d 2025
h. Anwar HR Tahun 2025 S/d Sekarang




Pulo Rheng

Alamat
Jl. Meunasah Lama - Duson Tunong - Bandar Baru Pidie Jaya 24184
Phone
0852-1184-0929
Email
[email protected]
Website
pulorheng.sigapaceh.id

Kontak Kami

Silahkan Kirim Tanggapan Anda Mengenai Website ini atau Sistem Kami Saat Ini.

Total Pengunjung

21.487